Bernafas yang Baik & Benar : Pernafasan Perut BUKAN Pernafasan Dada

Bernafas merupakan seringkali dianggap hal yang biasa-biasa saja. Orang kerap mengabaikan bahwa bernafas modal utama kita bisa hidup. Dan bila saja setiap orang menguasai cara bernafas dengan baik dan benar maka dapat menjaga kondisi kesehatan tubuh serta pikiran dengan baik dan benar pula.

Bernafas yang salah akan berdampak buruk bagi kesehatan. Untuk itu setiap individu harus belajar teknik bernafas dengan benar. Sebab ini akan sangat bermanfaat sangat besar terhadap kondisi mental, emosional, dan fisik atas ketidakseimbangan tubuh atau penyakit bahkan bernafas dengan baik mampu menyiapkan tubuh serta pikiran manusia pada kondisi optimal menuju kesembuhan.

Bernafas yang Baik & Benar : Pernafasan Perut BUKAN Pernafasan Dada

Bernafas yang Baik & Benar : Pernafasan Perut BUKAN Pernafasan Dada

Cara mengolah pernafasan yang benar yaitu dengan membedakan antara bernafas lewat perut dan dada ditambah dengan menguasai pengetahuan tentang pernafasan. Cara bernafas yang benar yaitu yang dilakukan dengan samar.b

Ambil contoh cara bernafasnya bayi. Cobalah pembaca amati cara bayi bernafas –  ia bernafas melaui perut. Nah, itulah cara mengolah pernafasan yang alami. Anda akan melihat bayi – perutnya membesar saat menarik nafas.

Mari kita mengingat kembali ke masa kecil. Saat kita masih kanak-kanak, seiring dengan tumbuhnya kewaspadaan dan kesadaran diri, mungkin kita akan kehilangan cara bernafas yang spontan dan alami.

Jamak dari kita melupakan bagaimana bernafas dengan perut seperti yang pernah kita lakukan saat bayi. Kita menjadi terbiasa melakukan pernafasan dada; menahan perut dan bernafas melalui dada.

Faktor lingkungan masyarakat serta budaya juga mempengaruhi bagaimana kita bernafas. Laki-laki dan perempuan tanpa sadar sudah beranggapan kalau perut rata, berdiri tegap, dan membusungkan dada itu modal penting sehingga perlu dilakukan. Padahal mindset seperti itu akan menghalangi bentuk alami pernafasan perut.

Faktor lain yang perlu digaris-bawahi adalah kondisi emosional. Faktor ini pun mampu mempengaruhi pernafasan kita. Sebut saja; ketakutan, kegelisahan, kemarahan, dan perasaan depresi. Ini semua – secara tidak sadar – mampu mengaktifkan pernafasan dada serta menghambat pernafasan perut, bahkan memaksa kita menahan atau berhenti bernafas sesaat.

Untuk lebih simpelnya, bernafas melalui perut dilakukan dengan cara membiarkan perut kita mengembang saat kita menarik nafas. Ini merupakan kebalikan dari menarik nafas melalui dada. Saat mempraktekkan pernafasan perut, dada mungkin saja bisa sedikit mengembang. Akan tetapi jamaknya, nafas diambil dengan membiarkan perut kita mengembang.

Saat kita membiarkan perut mengembang di saat menarik nafas, maka saat itu pula kita menyediakan ruang bagi paru-paru guna mengembang lebih sempurna. Usus bergeser memberikan jalan dan menyediakan ruang untuk paru-paru.

Bernafas yang Baik & Benar : Pernafasan Perut BUKAN Pernafasan Dada

Pernafasan melalui perut kadangkala diarahkan sebagai pernafasan diafragmatis. Padahal selama kita melakukan pernafasan perut tidak sedang melakukan pernafasan dengan diafragma. Diafragma digambarkan seperti kita membiarkan perut kita mengembang saat menarik nafas. [w2/02]


referensi: https://www.facebook.com/BarisanRadenPapak/posts/223690814404805

Menarik? Sila di-SHARE!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *